Hati yang Baik
Tidak pada
seperti biasanya hari ini Edgar mendapatkan pasien yang sangat ramai dan banyak pasien yang terkena penyakit
tipes, meskipun sedikit lelah ia harus memberikan pelayanan terbaik kepada
pasien karena semua itu merupakan tanggung jawab Edgar sebagai seorang dokter. Ia
sangat gembira memiliki profesi yang saat ini dijalani karena bisa menolong dan
membatu sebagian banyak orang yang sakit.
Pada suatu saat Edgar sedang beristirashat di rumah nya,
“Assalamualaikum dokter” ucap seseorang di balik pintu, sambil terdengar suara bel. Edgar yang sedang beristirahat, berjalan membuka kan pintu.
“Mas, tolong anak saya. Demam nya tidak turun selama dua hari” bapak itu terlihat sangat panik.
“Tidak dibawa ke rumah sakit, Pak?” tanya Edgar sambil membawa anak dari bapak tersebut menuju ke dalam rumah Edgar, lalu dijawab dengan gelengan bapak tersebut.
“Saya tidak
punya uang, Mas” Edgar mengambil beberapa obat dan peralatan dokter,
lalu segera menangani anak dari bapak tersebut.
“Ini Mas, saya hanya bawa segini. Terima kasih ya” Edgar menolak halus uang tersebut, lalu meminta bapak itu untuk membawa pulang uang tersebut.
“Ini sudah
menjadi kewajiban saya untuk membantu orang lain, sehat sehat ya pak” ucap
Edgar tersenyum.
‘ kriiiiing . . . ‘
Suara alarm
berbunyi, aku terbangun lalu menatap sekeliling, mengingat masa-masa perjuangan
ku untuk menjadi kehidupan saat ini.
Aku Edgar
Zeydan, dahulu aku memiliki cita-cita ingin menjadi seorang dokter karena di
sisi lain aku ingin menjadi dokter ingin sekali dapat menolong orang lain yang
tidak mampu. Seperti ayahku, hanya seorang petani dan ibuku seorang pembantu
rumah tangga. Dari hal itulah aku ingin menjadi dokter supaya bisa menjadi
orang yang sukses.
Suatu hari
tiba-tiba ayah jatuh sakit, maka terpaksa ayah tidak bisa bekerja untuk
menafkahi keluarga. Terlintas di otakku untuk berhenti sekolah dan menggantikan
ayah yang sedang sakit untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarga. Tetapi, ibu
menolak pemikiran ku untuk berhenti sekolah. Aku beri penjelasan logis pada
Ibu, tapi Ibu tetap menolak mentah-mentah dan ingin aku tetap melanjutkan
sekolah sampai lulus. Ibu bilang bahwa aku harus meraih cita-cita ku dan
menjadi sukses.
Singkat
cerita, aku pun lulus sekolah menengah atas dengan nilai yang memuaskan. Aku
melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dan mengambil jurusan
kedokteran pada universitas ternama di kota ku. Aku terus belajar dan belajar
agar menjadi orang yang sukses, seperti yang dikatakan Ibu.
Aku bangga
atas apa yang aku lakukan saat ini. Berkat dukungan kedua orang tua ku, aku
menjadi orang yang sukses. Beberapa tahun sudah ku jalani untuk kuliah di
kedokteran lalu lulus. Dan berakhir disini, akhirnya aku menjadi seorang dokter
yang baik.
Pada era sekarang ini yang dibutuhkan bukan hanya generasi muda yang berkarakter kuat,tetapi juga benar, positif, dan konstruktif. Dan bukan hanya nilai yang tinggi untuk mencapai kesuksesan, namun juga dibutuhkan nilai optimis pada diri sendiri, dan berkepribadian yang baik. Generasi milenial sangat butuh adanya pendidikan moral atau karakter yang diberikan di pendidikan formal maupun non formal.
Cerpen Tema Pendidikan Karakter Generasi Milenial
( dengan perubahan tokoh , dan kata kata )
sekian dari retta , sampai jumpa lain waktu;)
sumber: giphy.com


Komentar
Posting Komentar